Cari Entri lain

Sabtu, 01 November 2014

SITUS DAN KASUS, RITUS SALAH URUS

TIGA orang Penganut Agama Samawi, pernah beraksi dengan sikap aroansi, tentang cara mereka melaksanakan Kebaktian Amal Saleh dalam Situs dan Ritus KEBERAGAMANNYA. Orang Nasrani, berkata dengan narasi santai dengan membuat garis lurus, sepanjang ratusan meter seperti merentang lapangan Vatican.
Mereka yang mau berdarma, harus berdiri diatas garis itu, sambil menggenggam Dinar Emas senilai ribuan dilemparkan ke atas. Jika dnar itu terjatuh ke kanan. Dinar itu milik Gereja. Tetapi jika Dinar itu terjatuh ke kiri garis, maka dinar itu menjadi milik pribadi untuk beli mobil.
Ketika melemparkan ke atas, gerak ekspresi tangannya, mengarah ke kanan, seperti gaya cowboy melempar lasso. Maka sejumlah dinar emas yang terjatuh, banyak yang disebelah kiri. Disebelah kanan hanya bergulir beberapa keeping dinar yang menjadi milik Gereja.
Sejumlah penonton hanya member tanggapan sinis “Kerja seorang oknum yang Kapitalis”
Berganti giliran, seorang Muslim yang tampil kedepan dengan gaya orasis seperti kiyahi, menyalahkan oknum Nasrani “Menurut perkembangan ilmu pengetahuan. Garis lurus itu tidak pernah ada. Sebab secara fitrah yang ada Cuma garis lengkung atau garis lingkar.”
Maka dibuatlah garis lingkar, semacam syariat Agama Islam memutari situs Ka’bah. Jika dinar emas yang digenggam terjatuh dalam lingkaran, adalah Jariyahnya untuk kegiatan Keberagamaan. Tetapi jika terjatuh diluar lingkaran, adalah milik pribadi untuk cari istri lagi.
Lingkaran itu dibuat seluas kakinya berdiri, bukan seluas lapangan masjid, apalagi seluas padang Arafah. Ketika dirham emas itu dilemparkan ke atas, tak sekepingpun dinar itu yang bergulir dilingkar kakinya, berarti tidak ada dirham yang bisa diamalkan dan dijariyahkan. Cukup besuk saja, sisa dinar yang sudah jadi kertas kumuh bergambar seekor monyet.
Sejumah penonton hanya memberikan tanggapan cibir “Kerja seoran Oknum yang borjuis”.
Berganti kemudian seorang Israil beragama Yahudi, melakukan gaya intimidasi, baik pada support Muslim maupun Kristiani sambil berkata “Kedua cara itu salam semua, tidak berdasar pada logika dan dialektika. Garis lurus dan garis lengkung, tidak pernah ada dalam kehidupan dunia”.
“Untuk berdarma pada Agama cukup kita lemparkan Dirham dinar emas itu ke atas. Jika terjatuh jauh ke angkasa, maka Dinar emas itu milik Yang Maha Kuasa, tetapi jiks terjatuh lagi kebumi, itu adalah milik kami bangsa Israil.”
Sejumlah penonton tak seorangpun yang member tanggapan, sebab sebagian penonton itu “ATHEIS”.

HASNAN SINGODIMAYAN

Pengarang “Suluk Mu’tazilah”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar