TIGA orang Penganut Agama Samawi, pernah
beraksi dengan sikap aroansi, tentang cara mereka melaksanakan Kebaktian Amal
Saleh dalam Situs dan Ritus KEBERAGAMANNYA. Orang Nasrani, berkata dengan
narasi santai dengan membuat garis lurus, sepanjang ratusan meter seperti
merentang lapangan Vatican.
Mereka yang mau berdarma, harus berdiri
diatas garis itu, sambil menggenggam Dinar Emas senilai ribuan dilemparkan ke
atas. Jika dnar itu terjatuh ke kanan. Dinar itu milik Gereja. Tetapi jika
Dinar itu terjatuh ke kiri garis, maka dinar itu menjadi milik pribadi untuk
beli mobil.
Ketika melemparkan ke atas, gerak
ekspresi tangannya, mengarah ke kanan, seperti gaya cowboy melempar lasso. Maka
sejumlah dinar emas yang terjatuh, banyak yang disebelah kiri. Disebelah kanan
hanya bergulir beberapa keeping dinar yang menjadi milik Gereja.
Sejumlah penonton hanya member tanggapan
sinis “Kerja seorang oknum yang Kapitalis”
Berganti giliran, seorang Muslim yang
tampil kedepan dengan gaya orasis seperti kiyahi, menyalahkan oknum Nasrani “Menurut
perkembangan ilmu pengetahuan. Garis lurus itu tidak pernah ada. Sebab secara
fitrah yang ada Cuma garis lengkung atau garis lingkar.”
Maka dibuatlah garis lingkar, semacam syariat
Agama Islam memutari situs Ka’bah. Jika dinar emas yang digenggam terjatuh
dalam lingkaran, adalah Jariyahnya untuk kegiatan Keberagamaan. Tetapi jika
terjatuh diluar lingkaran, adalah milik pribadi untuk cari istri lagi.
Lingkaran itu dibuat seluas kakinya
berdiri, bukan seluas lapangan masjid, apalagi seluas padang Arafah. Ketika dirham
emas itu dilemparkan ke atas, tak sekepingpun dinar itu yang bergulir dilingkar
kakinya, berarti tidak ada dirham yang bisa diamalkan dan dijariyahkan. Cukup besuk
saja, sisa dinar yang sudah jadi kertas kumuh bergambar seekor monyet.
Sejumah penonton hanya memberikan
tanggapan cibir “Kerja seoran Oknum yang borjuis”.
Berganti kemudian seorang Israil
beragama Yahudi, melakukan gaya intimidasi, baik pada support Muslim maupun
Kristiani sambil berkata “Kedua cara itu salam semua, tidak berdasar pada
logika dan dialektika. Garis lurus dan garis lengkung, tidak pernah ada dalam
kehidupan dunia”.
“Untuk berdarma pada Agama cukup kita
lemparkan Dirham dinar emas itu ke atas. Jika terjatuh jauh ke angkasa, maka
Dinar emas itu milik Yang Maha Kuasa, tetapi jiks terjatuh lagi kebumi, itu
adalah milik kami bangsa Israil.”
Sejumlah penonton tak seorangpun yang member
tanggapan, sebab sebagian penonton itu “ATHEIS”.
HASNAN SINGODIMAYAN
Pengarang “Suluk Mu’tazilah”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar